Pengalaman Tunanetra Kuliah 3 S2 di Luar Negeri

Featured

“S2 dalam negeri & luar negeri”
Seseorang bercerita. Pak, kuliah di kampus saya (menyebut salah satu universitas terkemuka di Indonesia) itu susah banget. tuntutannya tinggi banget. kayanya gak gimana gitu. sampe-sampe, si … (nama temannya) bilang “pokoknya jangan kuliah di sini, mending di luar negeri aja lah. di sini mah kuliahnya susah banget. pokoknya, saya mau kasih tahu suami, keluarga, dan teman2, jangan kuliah S2 di sini. susah banget, mendingan pada kuliah di luar negeri aja sana”. Saya mengangguk. tidak berani berkomentar. Setelah berpisah dengan orang itu, langsung terngiang pengalaman waktu S2 di luar negeri.

Mendengar cerita tersebut, saya jadi kaget. “Alhamdulillah, belum pernah merasakan kuliah S2 di dalam negeri. jadi, kuliah pontang-panting, bergadang terus, gak ada artinya jika dibandingkan dengan kuliah S2 di dalam negeri toh.

Sewaktu kuliah S2 Kajian Budaya di AKU, London-Inggris 2008-2009, saya kuliah satu tahun ada 4 term. setiap term hanya berlangsung selama 10 minggu tanpa break. kemudian libur 2 minggu, lalu mulai lagi term berikutnya. di setiap term, ada 4-5 mata kuliah. setiap mata kuliah mewajibkan 2 makalah; 1 untuk mid-term assignment dan 1 lagi untuk final assignment. setiap tugas paper yang kami buat dievaluasi oleh external reviewer dari luar kampus, katanya dari pihak pemerintah UK yang bagian standarisasi kualitas pendidikan tinggi. jadi, dosen tidak bisa asal kasih nilai karena penilaian mereka dan tugas mahasiswa juga direview lagi oleh external reviewers tersebut. Mekanisme ini katanya untuk menentukan kualitas setiap kampus swasta di sana.

saya kuliah dari pagi sampai sore Senin sampai Jumat. Setiap sesi, kami diharapkan sudah membaca 3-5 jurnal atau beberapa bab buku. per jurnal ada yang hanya belasan halaman, dan ada juga yang puluhan halaman. Bahasanya ya dalam bahasa Inggris semua. saya biasanya tidur mulai dari jam 6 sore sampai jam 9 malam. tergantung musim di sana karena menyesuaikan juga dengan waktu solat. intinya, tidur 3 jam, lalu lanjut baca-baca referensi, ngerjain tugas-tugas, cari-cari referensi tambahan untuk tugas, dan lalu konversi referensi-referensi tsb dalam format word document. proses konversi pdf ke word document sangat makan waktu. dulu masih pakai acrobat adobe professional. jika bukunya tebal, ratusan halaman, mengkonversi dari pdf ke word document bisa lama banget.

Karena tidak terbiasa membaca puluhan dan bahkan ratusan halaman referensi dalam bahasa Inggris, waktu yang saya butuhkan untuk memahami materi sangat lama. Untuk setiap kalimat saja, saya harus membuka kamus berkali-kali. Maklum, ilmu yang dipelajari tidak sesuai dengan S1. Akhirnya, banyak sekali istilah-istilah dan kosakata-kosakata yang asing, yang belum pernah dibaca sebelumnya. Kuliah dalam bahasa asing memang memberikan tantangan yang berlipat. Referensi dalam bahasa asing. Perkuliahan dalam bahasa asing. Lebih menantang lagi, meneliti dan menulis juga dalam bahasa asing. Sering kali, karena beban belajar cukup banyak, akhirnya yang penting target baca sekian referensi tertuntaskan. Hal ini penting agar saya mampu mengikuti perkuliahan dan diskusi di kelas. Meski kurang memahami apa yang dibaca, paling tidak saya tidak terlalu merasa asing dengan bahasan di dalam kelas. Ketika di rumah, saya ulang lagi baca-baca materinya agar bisa lebih paham.

Hasil konversi buku-buku dari format PDF ke Word document sering kali tidak akurat. Ketika informasi disajikan dalam bentuk kolom-kolom, isi teks yang terdapat di dalam kolom-kolom yang berbeda, tapi berada di baris yang sama sering tergabung, seolah teks-teks tersebut adalah satu kesatuan teks. Akhirnya, sulit sekali memahami apa yang saya dengar. Belum lagi, huruf-huruf yang salah karena kualitas buku yang kurang bagus. Ini membuat apa yang terdengar jadi tidak bermakna, dan malah membuat stress karena tidak dapat dipahami. Beban belajar jadi bertambah. Tidak hanya volume bacaan yang banyak, tetapi juga kendala-kendala lain dan pekerjaan tambahan lainnya, seperti men-scan referensi, melakukan konversi, mencoba memahami teks-teks yang tidak akurat, dan kecepatan membaca yang sangat lama. Karena ilmu baru, karena banyak istilah dan kosakata baru, karena banyak kesalahan konversi, saya harus membaca per kata. Jempol kiri menekan tombol “control” terus menerus, dan jari manis kanan menekan tombol panah kanan secara bertahap. Setiap kali tombol panah kanan ditekan, JAWS akan membaca satu kata di sebelah kanan kursor. Setelah saya dengar kata tersebut, baru saya bisa putuskan apakah saya akan membaca kata berikutnya atau saya akan membuka kamus untuk mengetahui artinya jika memang saya tidak tahu, atau saya akan dengarkan kata tersebut sekali lagi untuk memperjelas apa yang tadi saya dengar. Berarti, setidaknya, jika dalam setiap halaman terdapat 500 kata, saya harus menekan tombol panah kanan paling sedikit 500 kali. Ini belum termasuk waktu yang dibutuhkan untuk mendengar ulang sebuah kata dan belum termasuk waktu yang dibutuhkan untuk mendengar per paragraf atau per kalimat. Belum juga termasuk waktu yang dibutuhkan untuk menebak-nebak teks yang membingungkan karena proses konversi yang tidak proporsional.

karena banyak yang harus dikerjakan, dari jam 9 malam sibuk, dan lanjut berangkat kuliah di pagi hari hingga sore hari. ketika siang hari, biasanya mulai berasa kaya mabok. tapi saya pikir gak masalah. saya yakin bahwa ilmu yang saya dapatkan lebih banyak dari apa yang saya baca secara mandiri, bukan dari apa yg saya dengar di dalam kelas. informasi yang professor sampaikan di dalam kelas sangat terbatas. untuk menggali lebih dalam dan memahami serta mempelajari lebih jauh, tentu harus baca sendiri. akhirnya, saya lebih mengorbankan produktivitas di dalam kelas, dan mengoptimalkan produktivitas untuk menggali ilmu secara mandiri.

sabtu minggu pun waktu tidurnya masih sama. seharian saya masih harus belajar. Alhasil, jarang sekali saya bisa menemani istri jalan-jalan menikmati kota London dan United Kingdom, dan jarang sekali bisa memaksakan diri untuk silaturahmi dengan kawan-kawan dan keluarga-keluarga Indonesia di sana.

saya paham keterbatasan fisik saya. saya baca pakai telinga. waktu yang saya butuhkan untuk membaca jauh lebih lama dari orang awas. jadi, saya harus tahu diri. niat ke London adalah untuk belajar. jadi, saya nikmati benar pengalaman belajar di luar negeri.

Ketika 2013-2015 kuliah S2 Pengajaran bahasa Inggris & S2 Assessment & Evaluasi Pendidikan di UNSW (universitas dengan ranking ke 41 di dunia menurut QS world university ranking 2014 untuk bidang Magister pendidikan), Australia, , Alhamdulillah lebih ringan dari di Inggris. dalam satu tahun ada 2 semester. 1 semester ada 15 minggu dan biasanya ada libur tengah semester untuk refreshing katanya. tapi buat saya, libur tengah semester adalah kesempatan saya untuk mengimbangi teman-teman awas. mereka istirahat, saya maraton terus mencoba mengimbangi. setiap semester ada 4 mata kuliah. tapi ternyata saya gak sanggup. akhirnya, saya disarankan oleh pihak disability unit untuk ambil 3 mata kuliah. saya bingung. waktu di London, beban belajar saya jauh lebih berat dan sanggup 5 mata kuliah per sepuluh minggu dengan kuliah dari pagi sampai sore senin hingga jumat. sementara di Sydney hanya kuliah 4 sesi setiap minggunya dan saya gak sanggup. ternyata, expektasi di Sydney lebih tinggi. dengan pertemuan kuliah yang lebih singkat, justru tuntutannya lebih tinggi. setiap 1 mata kuliah mewajibkan mahasiswa untuk belajar minimal 150 jam selama semester. artinya, setiap 1 mata kuliah, mahasiswa wajib mengalokasikan 10 jam seminggu untuk belajar. jadi, jika 4 mata kuliah, artinya, mahasiswa wajib belajar 40 jam seminggu minimal. 40 jam seminggu? gak bisa kerja dong? bisa aja. makanya, disebutnya full time students. kalau mau kerja, ya otomatis di luar 10 jam tersebut.

alasan lain kenapa saya tidak sekuat waktu di Inggris adalah karena kondisi teknologi yang berbeda. di Sydney, mahasiswa dituntut untuk dapat memanfaatkan teknologi secara maksimal. harus sering cek Moodle untuk unduh silabus, referensi yang dosen sediakan, dan untuk partisipasi aktif dalam diskusi yang dosen siapkan. Selain itu, mahasiswa juga wajib mengunggah tugas-tugas ke turnitit, sebuah aplikasi yang mendeteksi tingkat plagiat seseorang dalam mengerjakan karya akademik. Copy-paste adalah plagiarism. tidak copy-paste, sudah paraphrase tetapi struktur kalimatnya dan kosakatanya belum berbeda jauh masih dianggap plagiarism. kurang tepat cara mengutipnya masih termasuk plagiarism. Tuntutan akademiknya ternyata seperti ini. Ini adalah beban lain yang juga cukup menyita waktu. untuk saya yang tunanetra, teknologi adalah tantangan yang luar biasa. jadi mencoba beradaptasi dengan teknologi saja cukup makan waktu.

Lebih parah lagi, ketika lagi sibuk kerja, tiba-tiba JAWS, program pembaca teks, mogok ngomong. repot. saya gak tahu kenapa. akhirnya bisa diam lama hingga 1 jam. akhirnya, ujung-ujungnya saya paksa tekan tombol untuk mematikan laptop dan uulang lagi dari awal. belum lagi harus baca 3-5 jurnal atau bab-bab buku setiap sesi. dan setiap mata kuliah umumnya mewajibkan kami membuat 2 sampai 3 paper. ada juga yang essay setiap minggu. essay sederhana. tetapi harus tetap pakai referensi.

Selain teknologi, ternyata kondisi saya berbeda dengan di London dulu. Di London, kami masih pasangan muda, belum punya anak. setiap kali tak sempat makan, karena kedua tangan, ke sepuluh jari harus terus menari-nari di atas keyboard laptop, akhirnya, istri saya selalu menyuapi saya. ketika di Sydney, saya sudah punya anak. saya dan istri tetap harus berkolaborasi dalam membina rumah tangga dan mendidik anak. kadang, saya masih harus mengantar anak ke sekolah. masih harus bantu mengurus administrasi yang cukup ngejelemit. masih berurusan dengan akomodasi, internet, listrik, gas, dll. kadang, masih ingin bantu istri nemenin belanja. kadang, masih juga harus nemenin anak main dan jalan-jalan. masih harus mencoba memaksa diri untuk aktif juga di organisasi dan pengajian dengan teman-teman. kalo di London, saya disuapi istri dan diurusi, di Sydney sesekali saya harus menyuapi anak dan mengurusi anak. meskipun, dalam hati, tetap mikirin tugas.

Jika dihitung, rata-rata paper yang saya buat berjumlah sekitar 3000 sampai 10000 kata termasuk referensi. jumlah referensi bervariasi antara 5 sampai 60 referensi. Total paper yang saya buat selama di Sydney ternyata mencapai kurang lebih 38-44 paper dengan tema yang cukup beragam, sesuai dengan keenam belas mata kuliah yang saya ambil. 1 paper masih under review di Asia TEFL International Journal (terindex Scopus dengan nilai Q3). 1 paper sempat diterima untuk dipublikasikan di salah satu jurnal international berreputasi di Malaysia (tapi gak jadi karena saya tidak jadi bayar biaya publikasinya. lebih memilih untuk beli tiket pulang for good). 1 paper dipresentasikan di STAIN Kediri. 1 paper di presentasikan di konferensi internasional di UIN Malang. dan 4 paper diterima di CONAPLIN International conference. 1 paper sempat diterima untuk dipresentasikan di seminar internasional di Semarang, tapi saya gak jadi terbang ke Semarang dari Sydney. Sisanya belum sempat dikirim-kirim ke jurnal atau konferensi.

Teman-teman di Sydney dulu yang bule umumnya kuliah part-time karena mereka bekerja. itu pun, saya kadang dengar keluhan mereka yang keteteran dengan tugas kuliah. padahal, referensi dalam bahasa mereka. ada juga beberapa teman bule yang memaksakan untuk kuliah full-time. tapi jelas kondisinya berbeda. mereka semua yang memaksakan diri untuk full time study, rata-rata tertekan berat dengan beban kerja dan beban kuliah. sulit sekali punya waktu cukup untuk membaca, meneliti dan untuk mengerjakan tugas. bahkan mereka sampai meminta toleransi penundaan waktu pengumpulan tugas. jadi, memang saya sangat berbeda dengan teman-teman awas. kecepatan membaca saya sangat lama. ketika, teman-teman bisa jalan-jalan, kerja, nonton, hang out, aktif kegiatan organisasi, saya lebih sering di kamar untuk belajar. atau selain belajar, saya saya palingan main sama anak dan mengurusi urusan rumah tangga. 🙂

begitulah pengalaman pribadi saya kuliah di luar negeri. Tentu saja, orang lain pasti memiliki pengalaman yang jauh berbeda.

Penerimaan dosen Universitas Negeri Malang, Maret 2017

Dear kawan-kawan pecinta edukasi. Berikut ini adalah informasi resmi dari Universitas Negeri Malang tentang penerimaan dosen tahun 2017.

Untuk informasi lengkap, silahkan kunjungi link resmi Universitas Negeri Malang berikut:
Pengumuman resmi penerimaan dosen Universitas Negeri Malang Maret 2017

Semoga berhasil. Silahkan informasikan ke keluarga dan teman-teman yang membutuhkan.

Salam Pendidikan

Beasiswa S1, S2 dan S3 di London, United Kingdom

Dear para pejuang beasiswa,

Jika anda sudah lama bermimpi ingin mengunjungi dan jalan-jalan di kota London dan kota-kota serta negara-negara sekitarnya secara gratis, barangkali informasi berikut bisa membantu.

Westminster University menawarkan banyak skema beasiswa untuk mahasiswa internasional atau mahasiswa dari luar United Kingdom.

Dengan belajar di Westminster University, tentu anda bisa berenang sambil minum air. Bisa berkuliah sambil menikmati keindahan London dan sekitarnya untuk waktu yang cukup panjang.

Silahkan bagikan informasi ini ke teman-teman dan keluarga anda yang membutuhkan informasi ini. Jika kita tidak mampu memberikan biaya ke luar negeri, paling tidak semoga informasi ini bisa menerbangkan anda dan orang-orang yang anda sayangi ke London.

Beasiswa kuliah S1
Beasiswa kuliah S2 dan S3

Ipan Alpian: Citylink’s Ground-handling staff, pahlawan bandara

Ipan Alpian: Citylink’s Ground-handling staff yang menjadi Pahlawan Bandara

 

Kali ini, saya ingin menceritakan pengalaman saya tentang sebuah keikhlasan dan ketulusan seorang ground-handling staff dalam menolong penumpang tunanetra. Ia bernama Ipan Alpian. Mendengar namanya, orang Indonesia akan cenderung menebak ia orang Sunda atau orangtuanya berasal dari tanah Sunda.  Saya juga sempat bertanya apakah ibu atau ayahnya orang Sunda. Ternyata kedua orangtua Ipan bukan orang Sunda. Ipan berasal dari wilayah Brastagi, Medan. Ia baru bekerja di Citylink sebagai Ground-handling staff selama kurang lebih dua tahun. Sebelumnya, ia pernah bekerja di Kalimantan untuk beberapa saat. Saya menduga, Ipan berusia sekitar 20 atau 21 tahun.

 

Ketika masih di Malang, saya sempat kebingungan mencari orang untuk menjemput saya di bandara Soekarno Hatta. Karena tiba di Cengkareng agak larut, saya juga tidak tega memaksakan istri atau kakak untuk menjemput. Akhirnya, saya coba menanyakan dua kawan baru yang saya kenal di atas panggung. Kami diundang oleh panitia International Scholarship Seminar Universitas Brawijaya untuk memberikan motivasi, informasi dan rahasia memenangkan beasiswa-beasiswa luar negeri.  Ternyata, mereka tidak menggunakan pesawat yang sama. Akhirnya, saya putuskan untuk pulang dari bandara ke rumah tanpa keluarga atau teman yang menjemput. Ini pertama kalinya saya mendarat di bandara tanpa disambut oleh keluarga.

 

Pesawat Citylink akhirnya mendarat pukul 21:15 WIB (Senin 7 November 2016). Sesuai dengan perkiraan yang disampaikan ketika masih berada di bandara Juanda, Surabaya. Saya masih menunggu hingga pesawat benar-benar berhenti total. Setelah roda-roda pesawat mendarat di atas landasan, pesawat masih melaju dengan cepat. Kemudian, secara perlahan kecepatan mulai berkurang. Sambil memposisikan tubuh pesawat, pilot terus mengendalikan pesawatnya hingga pintu pesawat tepat terhubung dengan koridor yang membawa penumpang menuju bagian dalam bandara.

 

Pesawat berhenti. Saya segera bergegas. Saya berdiri dan segera membuka lemari di atas bangku. saya keluarkan koper dan saya letakkan persis di sebelah kursi. saya gendong tas laptop. saya angkat plastik berisi makanan khas Malang dari panitia dan saya masukkan ke lengan kanan. lalu, saya panjangkan tongkat dan saya genggam dengan tangan kanan. saya tarik handle koper ke atas dan saya genggam dengan tangan kiri. Saya segera melangkah. Berjalan dengan tongkat di depan dan koper di belakang.

 

“Belok kiri ya pak” ucap salah seorang flight attendant.

“Terima kasih” sahut saya.

“Ini kawan saya sudah siap pak. nanti dia yang bantu bapak” jelas seorang pramugara yang sempat bincang-bincang agak lama dengan saya ketika sebelum mendarat.

 

Sebelum kaki saya mencapai pintu keluar, seorang petugas menyambut saya.

“Mari saya bantu pak” jelas Ipan, yang bekerja sebagai Gound-handling staff.

“Pelan-pelan ya pak. ini agak turun” jelasnya memberitahu.

Meski nampak belum ahli dalam menuntun tunanetra, saya dapat merasakan sebuah ketulusan dan keikhlasan dari sentuhan tangan dan intonasi suaranya.

Ia agak sedikit bingung antara ia yang memegang atau ia membiarkan saya memegang lengannya. Awalnya, ia sempat meraih lengan saya. tetapi kemudian, saya coba arahkan sehingga ia berjalan seperti biasa dan saya memegang lengan tangannya.

 

Ipan: Bapak nanti mau kemana?

saya: Saya mau naik Damri ke Rawamangun mas.

Ipan: Nanti saya antar ke Damri ya pak.

saya: Iya mas. terima kasih banyak

saya lega sekali. ternyata, petugas bisa mengantar hingga ke terminal Damri. Alhamdulillah. Berarti, nanti tinggal minta keluarga jemput di terminal Rawamangun.

Ipan: Bapak ada barang di bagasi pesawat?

saya: Gak mas. saya bawa di kabin semua. kalo taro di bagasi, biasanya nunggunya cukup lama. saya khawatir kemalaman

Ipan: bapak habis dari mana? ada acara ya pak?

saya: dari Malang dan Surabaya. ada acara seminar.

Ipan: seminar tentang disabilitas atau bukan pak?

saya: yang di UIN Malang tentang pendidikan iklusi dan yang di Universitas Brawijaya tentang beasiswa luar negeri

Ipan: berarti bapak pernah dapat beasiswa ke luar negeri?

saya: “Alhamdulillah pernah”

Ipan: hebat pak. saya salut sama orang-orang kaya bapak. tadi dan kemarin juga ada beberapa penumpang tunanetra. mereka juga hebat. saya salut. jadi terinspirasi. bapak dan yang lainnya tidak patah semangat. terus berjuang.

saya: Iya mas. harus selalu berusaha.

Ipan: yang seminar pendidikan inklusi itu apa pak?

saya: oh itu, tentang bagaimana individu disabilitas bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Saya coba bantu teman-teman di Malang agar individu disabilitas dapat diterima di program studi dan universitas yang mereka inginkan.

Ipan: oh gitu ya pak. yang hadir siapa aja pak?

saya: awalnya, kami mengharapkan para petinggi kampus bisa hadir. kami undang 26 pimpinan perguruan tinggi se-Malang, dan sejumlah guru, pemerhati isu disabilitas, penggiat sosial, budayawan, aktifis mahasiswa, dan beberapa keluarga yang memiliki anak disabilitas.

Ipan: semua undangan datang pak?

saya: perwakilan kampus ternyata hanya sedikit sekali yang hadir. bahkan acara itu nyaris dibatalkan karena kampus yang awalnya bersedia menjadi tuan rumah memutuskan untuk membatalkan. Tapi akhirnya, kami tetap nekat dan Alhamdulillah bisa terlaksana.

Ipan: oh gitu pak.

saya: oh ya, terminal Damri jauh tidak dari pintu keluar bandara?

Ipan: gak kok pak. cuma nyebrang sedikit aja.

saya: oh gitu ya. biasanya saya dijemput keluarga pakai kendaraan. jadi gak tahu posisi terminal Damri.

Ipan: Ini kita sudah di pintu keluar pak, tinggal nyebrang sebentar.

saya: oh ya. Mas boleh ngantar sampai keluar?

Ipan: iya pak.

saya: gak dicariin kantor nanti?

Ipan: gak apa-apa kok pak. biar saya temenin sampai bapak naik Damri ke Rawamangun.

saya: terima kasih mas.

Ipan: ambil tiket dulu gak pak?

saya: katanya, lebih baik langsung bayar di dalam bis damri aja. khawatir tiketnya hilang.

Ipan: oh gitu. iya pak. pak, ini agak sempit ya jalannya. pelan-pelan aja.

saya: iya mas.

Ipan: nah ini kita sudah di tempat naik Damri pak. sebentar, saya carikan bangku untuk bapak. nah, bisa duduk di sini pak.

saya: terima kasih mas. tapi kayanya saya berdiri aja. sudah duduk lama di mobil travel dan di pesawat. (hanya alasan karena saya gak tahan dengan asap rokok dari orang-orang yang duduk di kanan kiri saya)

Ipan: oh gitu. bapak gak papa berdiri?

saya: iya gak papa. (sambil kasih kode kalo saya gak kuat dengan asap rokok)

Ipan: oh gitu pak.

Kami menunggu cukup lama karena sepertinya bis damri baru saja berangkat sebelum kami tiba di pintu keluar bandara.

saya: mas, kira-kira harus beli tiket dulu gak ya?

Ipan: mungkin iya pak. karena biasanya kalo tiket sudah terjual, berarti bis damri penuh dan langsung jalan pak. penumpang yang belum punya tiket mungkin tidak bisa naik.

saya: oh gitu ya. bisa minta tolong belikan tiket mas?

Ipan: bisa pak.

saya: langsung mengeluarkan beberapa lembar pecahan sepuluh ribuan.

Ipan: ini kebanyakan pak.

saya: gak apa mas. itu untuk mas. sekedar untuk tambahan beli bensin untuk pulang.

Ipan: gak apa pak. bapak pegang aja. (sambil menyerahkan kelebihan uang tadi)

Bentar ya pak. saya ke loket dulu.

tak lama kemudian, ia kembali

Ipan: maaf pak. loketnya sudah mau tutup. katanya, gak apa-apa, bayar langsung di dalam bis. ini uang yang tadi pak.

saya: oh gitu. ok.

Ipan: maaf ya pak. agak lama. moga sebentar lagi bisnya datang.

Karena cukup lama, kami sempat bincang-bincang. Ternyata, ketika masih di Medan, ia sempat kursus untuk kerja di bandara. ia kursus selama 6 bulan dengan biaya keseluruhan sekitar 12 juta.

 

Di sela-sela obrolan, saya kembali mengingatkan Ipan untuk kembali ke dalam bandara. Ia selalu bilang “gak apa-apa pak. saya kembali nanti setelah bapak naik bis”. saya khawatir ia diharapkan untuk segera kembali untuk mengerjakan kerjaan lain. saya yakinkan bahwa saya akan baik-baik saja. saya bisa menunggu damri sendirian karena saya bisa mendengar orang-orang yang meneriaki jurusan-jurusan Damri yang tersedia. meskipun, saya akui, karena bisnya banyak, tetap saya akan cari orang untuk bantu menemukan bis yang ke rawamangun.

 

Setelah kurang lebih 20 menit, bis damri ke Rawamangun tiba. saya kembali memberikan sejumlah uang untuknya. namun, Ipan kembali menolak.

 

Pengalaman tersebut memberi kesan penting bagi saya. Ipan benar-benar bisa bekerja secara profesional. Ia mampu menjadi cerminan perusahaan Citylink. Ia mampu  menjadi petugas yang baik, berkualitas, profesional dan berorientasi pada pelayanan konsumen. benar-benar customer-oriented. Ia tidak menyampaikan keluh kesah. ia tidak membicarakan “keburukan” perusahaan dalam menggaji karyawannya sebagaimana yang saya sering dengar dari petugas yang lain. Ia tidak sedikit pun mencoba membicarakan sesuatu yang dapat menarik rasa iba saya sehingga saya akan mengeluarkan sejumlah uang sebagai imbalan bantuan yang diberikannya. Ketika banyak orang di bandara benar-benar mengharapkan imbalan dari orang yang dibantunya, Ipan justru berbeda. Ia menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya. Ia menolong, menuntun, mendampingi dan memastikan saya selamat naik ke dalam bis Damri.

 

secara pribadi, memberikan uang tip atau tidak selalu jadi pergulatan batin. jika saya tidak kasih uang tips, saya merasa tidak berterima kasih. saya merasa tidak tahu diri. Sementara itu, jiga saya kasih uang tip, berarti saya membiasakan para petugas menerima imblan. dan hahl ini, kata banyak orang, dapat menyebabkan para petugas menjadi ketagihan atau kecanduan menerima imbalan. jadi, hal ini dapat berujung pada performa kerja yang kurang baik, yang tidak profesional. Ketika saya ingin memberikan uang tips, biasanya saya termotivasi oleh kebaikan dan ketulusan orang yang menolong. selain itu, saya juga sadar betul bahwa umumnya penghasilan karyawan kelas bawah memang tidak seberapa. jadi, karena merasa telah ditolong dan merasa kasihan dengan penghasilan yang minim, akhirnya saya memutuskan untuk memberi uang tip.

 

Saya jadi teringat beberapa kejadian di bandara. Salah satunya terjadi delapan tahun yang lalu. Saya dan istri baru saja kembali dari London. Kami disambut oleh keluarga. kami kemudian berjalan bersama ke tempat parkir. selama menuju tempat parkir, beberapa orang terus menawarkan “bantuan” padahal kami jelas-jelas tidak membutuhkan bantuan. keluarga yang menjemput cukup banyak. dan kami juga menggunakan troli untuk mendorong barang-barang kami. Dan begitu kami tinggal menaikkan koper ke mobil, seseorang langsung memegang koper dan ikut mengangkat ke dalam mobil. setelah itu, ia meminta uang. keluarga saya dengan terpaksa memberi sejumlah uang. tiba-tiba, orang itu bilang, “kurang pak?” dalam hati kami, orang kaya gini bisa bikin penumpang kapok karena orang-orang seperti ini berkeliaran bebas tanpa pengawasan. Seharusnya, orang-orang seperti ini dibersihkan dari bandara. Hingga tulisan ini diunggah, masih banyak orang-orang seperti itu yang berada di sekitar bandara.

 

Seandainya pengelola bandara bisa bekerja secara lebih profesional, mereka bisa meningkatkan kualitas keamanan dan kenyaman seperti di bandara-bandara di luar ngeri. Bandara bersih dari calo-calo jasa. Bandara bersih dari orang-orang yang biasa “memaksa” mendapatkan imbalan. Bandara dapat menyiapkan porter-porter resmi untuk membantu panumpang yang membutuhkan. Troli-troli tersedia dengan cukup. Jika dilakukan, maka bandara bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman seperti di stasiun-stasiun kereta dan di halte-halte trans Jakarta.

Pengalaman Operasi Mata

Mungkin banyak orang sudah tahu tentang operasi kendaraan bermotor di jalanan. dan

Mungkin banyak orang sudah tahu tentang operasi kendaraan bermotor di jalanan. dan mungkin banyak orang sudah tahu bagaimana mengatasinya. tapi bagaimana dengan operasi mata? operasi mata tidak terjadi di jalanan, tidak juga di mall atau pun di tempat2 keramaan.

 

operasi mata dilakukan di atas meja operasi di ruang operasi yang suhunya super dingin. operasi mata biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama. saya pernah dioperasi selama 10 jam karena mungkin cukup rumit.

 

Ada pasien yang cerita pengalamannya ketika di operasi mata. kebetulan ia tidak dibius total. jadi telinganya bisa mendengar. ia bisa berpikir jernih. dan bahkan kelopak mata dan bola matanya dapat merasakan apa yang dilakukan pada matanya. hanya saja, ia tidak merasakan perih atau sakit yang luar biasa. tetapi tetap ia dapat merasakan bagaimana jarum menempel bola matanya dan ditekan keluar masuk berulang-ulang ketika proses penjahitan sedang dilakukan. ia mendengar “waduh, dok, darahnya banyak” ungkap salah seorang dari tim dokter kepada kepala tim. “siram lagi aja” sahutnya. ia juga mendengar “waduh dok, jahitannya putus” kata salah seorang dokter. “sambung lagi aja” sahut kepala tim.

 

Alhamdulillah ketika operasi mata kanan di tahun 1992, saya dibius total. di tahun 1997, 1998 dan 1999  ketika operasi mata kiri, saya juga dibius total. jadi saya tidak mengalami apa yang diceritakan di atas. Namun, tetap saja saya juga merasakan keperihan setelah saya di ruang rawat dan terbangun dari efek bius. saya meronta-ronta. tak tahu apa yang terjadi. saya hanya merasakan ada yang aneh di mata saya. dan sya ingin mencopot perban tebal yang membalut mata kiri sya. kedua tangan saya pun diikat. dan setelah benar-benar pulih dari bius, saya baru mulai merasakan perih, meskipun tidak hebat. hanya perih sedikit tapi masih tertahan. ibu saya cerita bahwa di sekeliling mata yang dioperasi, terlihat hitam atau biru gelap seperti memar karena dipukuli. gelap lebam. mungkin karena efek bola mata dikeluarkan dan dijahit. ketika perban dibuka agar mata bisa diberi obat tetes, bola mata terlihat seperti merah darah. tak terlihat warna putih dan tidak juga terlihat warna hitam seperti bola mata pada umumnya. hanya nampak warna merah darah segar. Setelah beberapa hari, mulai pulih. warna merah mulai menghilang.

 

di tahun 2010, setelah saya kembali dari London, saya mengalami penurunan penglihatan yang drastis. mata kiri yang tadinya masih memiliki sisa penglihatan mulai tertutup oleh lapisan/jaringan yang makin menebal. Setelah dari London, sisa penglihatan di mata kiri hilang. yang terlihat hanyalah lapisan/jaringan ikat yang tebal, yang nampak seperti kabut tebal. namun, warnanya tidak putih. ad warna macam2. ungu, hijau, merah mudah, coklat, putih, kuning, dan warna lain yang umumnya terlihat berwarna gelap dan seperti kumpulan benang yang semrawut, yang terus bergerak-gerak tak henti,  menutupi penglihatan mata.

 

Akhirnya, dokter memutuskan untuk melakukan operasi mata kiri lagi. Operasi ini bukan untuk kesembuhan total. operasi ini hanya untuk membantu saya memiliki sedikit penglihatan untuk bantu rutinitas sehari-hari. hal ini dilakukan dengan cara mengelupas lapisan atau jaringan ikat yang menutupi penglihatan. itu pun hanya jaringan ikat yang di sisi bagian bawah dan sudut kiri retina saja. hanya sedikit saja. sebagian besar jaringan ikat yang tumbuh di retina mata kiri saya tidak bisa dihilangkan karena memiliki fungsi untuk menahan saraf-saraf mata yang dulu pernah lepas atau terputus. tapi kali ini saya tidak dibius total. ketika itu, saya tidak tahu bagaimana rasanya operasi mata tanpa dibius total. saya walnya mengira tidak akan mengalami sakit, tetapi mampu mendengar percakapan tim dokter.

 

 

Setelah di ruang operasi, karena tidak dibius total, saya mulai merasakan kedinginan. maklum, baju operasi tipis sekali dan pasien tidak mengenakan pakaian lain apa pun. Sebuah alat mulai dipasang di mata kiri. alat ini seperti kotak yang menyerupai kacamata renang. hanya sebelah. tetapi, bedanya, alat ini memaksa kelopak mata untuk terus terbuka. dan lensa di alat tersebut seperti kaca pembesar yang membantu tim dokter untuk melihat bagian mata secara lebih besar dan lebih jelas. jika kacamata renang menutup sekeliling mata, alat ini tidak. jadi ada bagian-bagian yang kosong, yang tidak tertutupi. jadi, tim dokter bisa bekerja dari bagian ini. ya, memang pekerjaan yang amat sulit. tukang jahit mungkin belum tentu bisa menjahit retina, atau kornea, atau memasang lensa tanam di mata, atau menyambung saraf-saraf mata yang putus atau terlepas.

 

Dari rasa dingin, saya mulai keringatan luar biasa. saya mulai merasakan bola mata mata saya ditusuk-tusuk, keluar masuk tak henti, untuk waktu yang cukup lama. memang tidak perih, karena dibius lokal. tetapi, saya merasakan betul rasanya benda tajam menancap di bola mata, lalu dikeluarkan, lalu ditancapkan lagi berkali-kali.

 

sebagai manusia biasa, saya marah, saya kecewa. kenapa dokter tidak memberitahukan hal ini. kenapa saya tidak diberikan gambaran tentang sakitnya dioperasi tanpa dibius total. terlebih lagi, saya mengetahui apa yang dilakukan dan apa yang terjadi mata mata saya. berdarah ketika ditusuk, terus keluar darah, terus disiram, (mungkin dengan alkohol atau dengan cairan lain),.

 

 

Begitu selesai dioperasi, saya menjadi sangat sensitif. mudah sekali marah dan tersinggung. saya tidak bisa berbicara karena masih merasakan operasi tadi. saya tidak mau diajak bicara. begitu keluarga saya mulai mengajak bicara ketika di ruang rawat, saya langsung marah. “sakit banget”. “kenapa dokter gak bilang kalo sakit begini? cuma karena biaya yang lebih murah, akhirnya jadi tidak dibius total. kalo tahu, mendingan bayar lebih mahal agar dibius total”

 

Alhamdulillah, sejak dulu memang dokter yang mengoperasi saya adalah dokter yang peduli yang sangat pengertian. belakangan saya baru menyadari bahwa memang orang lain, meskipun ia seumur hidupnya mengoperasi mata, tidak akan pernah punya pemahaman dan pengalaman yang akurat tentang bagaimana rasanya dioperasi. mereka tidak mengalami sendiri. mereka hanya menerka berdasarkan asumsinya sendiri. mereka hanya mendengar cerita dan membuat kesimpulan. jadi, ketika dokter menawarkan bius lokal dengan biaya yang lebih murah, kami setuju. saat itu, memang kami sedang kesulitan biaya. jadi, ketika ada solusi biaya lebih murah, kami ambil. saat itu, kami hanya dijelaskan bahwa tidak akan sakit. tetap dibius, tetapi hanya lokal.

 

Belakangan, saya merasa sangat bersyukur. saya sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk mengalami rasanya bola mata ditusuk, ditancap benda tajam keluar masuk berkali-kali. meski sakit, penyiksaan itu selesai. meski perih, pengalaman tersebut selesai. Saya tidak sanggup membayangkan “siksa akhirat”. ketika bola mata ditusuk-tusuk tak henti-henti selama ratusan tahun atau selama-lamanya tanpa diberikan kesempatan untuk bernapas. untuk berhenti dari siksaan. ketika mata terus melihat hal-hal yang terlarang, kedua mata ini kelak akan mengalami operasi mata yang sakitnya dan perihnya dasyat tak tertahan, dan untuk waktu yang tidak dapat diperkirakan.

 

Semoga kita semua dapat menjaga kedua mata kita dari operasi mata di akhirat kelak. amin.

Mari jaga pandangan, mari jaga aurat!

 

mungkin banyak orang sudah tahu bagaimana mengatasinya. tapi bagaimana dengan operasi mata? operasi mata tidak terjadi di jalanan, tidak juga di mall atau pun di tempat2 keramaan.

operasi mata dilakukan di atas meja operasi di ruang operasi yang suhunya super dingin. operasi mata biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama. saya pernah dioperasi selama 10 jam karena mungkin cukup rumit.

Ada pasien yang cerita pengalamannya ketika di operasi mata. kebetulan ia tidak dibius total. jadi telinganya bisa mendengar. ia bisa berpikir jernih. dan bahkan kelopak mata dan bola matanya dapat merasakan apa yang dilakukan pada matanya. hanya saja, ia tidak merasakan perih atau sakit yang luar biasa. tetapi tetap ia dapat merasakan bagaimana jarum menempel bola matanya dan ditekan keluar masuk berulang-ulang ketika proses penjahitan sedang dilakukan. ia mendengar “waduh, dok, darahnya banyak” ungkap salah seorang dari tim dokter kepada kepala tim. “siram lagi aja” sahutnya. ia juga mendengar “waduh dok, jahitannya putus” kata salah seorang dokter. “sambung lagi aja” sahut kepala tim.

Alhamdulillah ketika operasi mata kanan di tahun 1992, saya dibius total. di tahun 1997, 1998 dan 1999 ketika operasi mata kiri, saya juga dibius total. jadi saya tidak mengalami apa yang diceritakan di atas. Namun, tetap saja saya juga merasakan keperihan setelah saya di ruang rawat dan terbangun dari efek bius. saya meronta-ronta. tak tahu apa yang terjadi. saya hanya merasakan ada yang aneh di mata saya. dan sya ingin mencopot perban tebal yang membalut mata kiri sya. kedua tangan saya pun diikat. dan setelah benar-benar pulih dari bius, saya baru mulai merasakan perih, meskipun tidak hebat. hanya perih sedikit tapi masih tertahan. ibu saya cerita bahwa di sekeliling mata yang dioperasi, terlihat hitam atau biru gelap seperti memar karena dipukuli. gelap lebam. mungkin karena efek bola mata dikeluarkan dan dijahit. ketika perban dibuka agar mata bisa diberi obat tetes, bola mata terlihat seperti merah darah. tak terlihat warna putih dan tidak juga terlihat warna hitam seperti bola mata pada umumnya. hanya nampak warna merah darah segar. Setelah beberapa hari, mulai pulih. warna merah mulai menghilang.

di tahun 2010, setelah saya kembali dari London, saya mengalami penurunan penglihatan yang drastis. mata kiri yang tadinya masih memiliki sisa penglihatan mulai tertutup oleh lapisan/jaringan yang makin menebal. Setelah dari London, sisa penglihatan di mata kiri hilang. yang terlihat hanyalah lapisan/jaringan ikat yang tebal, yang nampak seperti kabut tebal. namun, warnanya tidak putih. ad warna macam2. ungu, hijau, merah mudah, coklat, putih, kuning, dan warna lain yang umumnya terlihat berwarna gelap dan seperti kumpulan benang yang semrawut, yang terus bergerak-gerak tak henti, menutupi penglihatan mata. Akhirnya, dokter memutuskan untuk melakukan operasi mata kiri lagi. tapi kali ini saya tidak dibius total. ketika itu, saya tidak tahu bagaimana rasanya operasi mata tanpa dibius total. saya walnya mengira tidak akan mengalami sakit, tetapi mampu mendengar percakapan tim dokter.

Setelah di ruang operasi, karena tidak dibius total, saya mulai merasakan kedinginan. maklum, baju operasi tipis sekali dan pasien tidak mengenakan pakaian lain apa pun. Sebuah alat mulai dipasang di mata kiri. alat ini seperti kotak yang menyerupai kacamata renang. hanya sebelah. tetapi, bedanya, alat ini memaksa kelopak mata untuk terus terbuka. dan lensa di alat tersebut seperti kaca pembesar yang membantu tim dokter untuk melihat bagian mata secara lebih besar dan lebih jelas. jika kacamata renang menutup sekeliling mata, alat ini tidak. jadi ada bagian-bagian yang kosong, yang tidak tertutupi. jadi, tim dokter bisa bekerja dari bagian ini. ya, memang pekerjaan yang amat sulit. tukang jahit mungkin belum tentu bisa menjahit retina, atau kornea, atau memasang lensa tanam di mata, atau menyambung saraf-saraf mata yang putus atau terlepas.

Dari rasa dingin, saya mulai keringatan luar biasa. saya mulai merasakan bola mata mata saya ditusuk-tusuk, keluar masuk tak henti, untuk waktu yang cukup lama. memang tidak perih, karena dibius lokal. tetapi, saya merasakan betul rasanya benda tajam menancap di bola mata, lalu dikeluarkan, lalu ditancapkan lagi berkali-kali.

sebagai manusia biasa, saya marah, saya kecewa. kenapa dokter tidak memberitahukan hal ini. kenapa saya tidak diberikan gambaran tentang sakitnya dioperasi tanpa dibius total. terlebih lagi, saya mengetahui apa yang dilakukan dan apa yang terjadi mata mata saya. berdarah ketika ditusuk, terus keluar darah, terus disiram, (mungkin dengan alkohol atau dengan cairan lain),.

Begitu selesai dioperasi, saya menjadi sangat sensitif. mudah sekali marah dan tersinggung. saya tidak bisa berbicara karena masih merasakan operasi tadi. saya tidak mau diajak bicara. begitu keluarga saya mulai mengajak bicara ketika di ruang rawat, saya langsung marah. “sakit banget”. “kenapa dokter gak bilang kalo sakit begini? cuma karena biaya yang lebih murah, akhirnya jadi tidak dibius total. kalo tahu, mendingan bayar lebih mahal agar dibius total”

Alhamdulillah, sejak dulu memang dokter yang mengoperasi saya adalah dokter yang peduli yang sangat pengertian. belakangan saya baru menyadari bahwa memang orang lain, meskipun ia seumur hidupnya mengoperasi mata, tidak akan pernah punya pemahaman dan pengalaman yang akurat tentang bagaimana rasanya dioperasi. mereka tidak mengalami sendiri. mereka hanya menerka berdasarkan asumsinya sendiri. mereka hanya mendengar cerita dan membuat kesimpulan. jadi, ketika dokter menawarkan bius lokal dengan biaya yang lebih murah, kami setuju. saat itu, memang kami sedang kesulitan biaya. jadi, ketika ada solusi biaya lebih murah, kami ambil. saat itu, kami hanya dijelaskan bahwa tidak akan sakit. tetap dibius, tetapi hanya lokal.

Belakangan, saya merasa sangat bersyukur. saya sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk mengalami rasanya bola mata ditusuk, ditancap benda tajam keluar masuk berkali-kali. meski sakit, penyiksaan itu selesai. meski perih, pengalaman tersebut selesai. Saya tidak sanggup membayangkan “siksa akhirat”. ketika bola mata ditusuk-tusuk tak henti-henti selama ratusan tahun atau selama-lamanya tanpa diberikan kesempatan untuk bernapas. untuk berhenti dari siksaan. ketika mata terus melihat hal-hal yang terlarang, kedua mata ini kelak akan mengalami operasi mata yang sakitnya dan perihnya dasyat tak tertahan, dan untuk waktu yang tidak dapat diperkirakan.

Semoga kita semua dapat menjaga kedua mata kita dari operasi mata di akhirat kelak. amin.
Mari jaga pandangan, mari jaga aurat!

Guru disabilitas di sekolah umum: Narasi 1- pendahuluan

Berikut adalah cerita bersambung pengalaman seorang tunanetra yang mengajar di sekolah umum, perguruan tinggi umum dan di lembaga pendidikan non-formal umum. Tulisan ini digerakkan oleh suatu kebutuhan akan adanya informasi tentang “cara-cara lain” yang dapat dilakukan oleh seorang pengajar disabilitas untuk mengajar, mengelola kelas dan tanggung jawab lainnya yang dibutuhkan di kelas-kelas umum. Kata umum di sini berarti kelas-kelas yang dilakukan bukan di dalam sekolah-sekolah luar biasa. Atau dengan kata lain, cerita-cerita mencoba untuk memberikan gambaran dan informasi tentang kondisi di dalam kelas-kelas yang di dalamnya adalah guru disabilitas dan murid-murid non-disabilitas. Tentunya, hal ini adalah sesuatu yang cukup asing bagian sebagian besar masyarakat Indonesia. Perlu saya garis bawahi, bahwa sebelum saya mencoba membuat tulisan ini, saya mencoba melakukan suatu penelitian sederhana. Saya coba mencari informasi tentang keberadaan guru disabilitas di lembaga-lembaga pendidikan umum melalui Google. Namun, hingga laman ke delapan, saya tidak menemukan informasi yang sesuai. Secara umum, informasi yang saya temukan adalah tentang perjuangan untuk mengakomodasi individu-individu disabilitas untuk bisa belajar di sekolah-sekolah umum atau di lembaga-lembaga pendidikan umum atau inklusi.

 

Saya adalah seorang pria kelahiran Jakarta. Saya dilahirkan 34 tahun yang lalu (5 Juni 1982) di suatu Rumah Sakit Umum. Saya dilahirkan dalam kondisi normal. Saya tidak tunanetra ketika lahir. Saya tumbuh dan berkembang secara normal sebagaimana anak-anak pada umumnya.

 

Karena takdir Tuhan, saya kini hanya memiliki sedikit penglihatan pada mata kiri. Saya mengalami kecelakaan ketika usia enam tahun. Saya tertabrak bajaj ketika sedang menyebrang jalan. Kening saya, persis di antara kedua mata, terbentur badan kendaraan tersebut sangat kencang. Benjolan besar muncul di antara kedua mata dan tidak hilang hinga sebulan lebih. Karena tidak mengalami pendarahan, ternyata benjolan tersebut mengindikasikan luka dalam yang cukup serius, tetapi saat itu tidak diketahui. Singkat cerita, ini lah yang menjadi salah satu penyebab robeknya atau lepasnya kedua retina mata dan putusnya beberapa syaraf mata saya dan hilangnya keseluruhan penglihatan mata kanan saya dan hilangnya sebagian besar penglihatan mata kiri saya. Saat ini, sisa penglihatan saya hanya cukup untuk membantu saya berjalan, khususnya ketika masih ada cahaya matahari. Meski demikian, saya juga masih sering mengalami kecelakaan ringan, seperti membentur tembok, mobil, tiang, pohon, dan bahkan terjatuh ke dalam got besar dan dalam.

 

Pengalaman mengajar saya awali di sebuah rumah di lingkungan komplek Departmen Sosial. Ketika itu, di tahun 2002, saya diminta untuk mengajar bahasa Inggris untuk anak kelas 1 Sekolah Dasar yang berpenglihatan normal atau bukan tunanetra. Ia adalah anak seorang karyawan Departmen Sosial di Wyata Guna, Bandung, sebrang GOR Padjajaran, Pasir Kaliki.

Saat itu sebenarnya saya sedang mengikuti program rehabilitasi keterampilan musik. Program rehabilitasi adalah salah satu bentuk program keterampilan untuk individu tunanetra yang bersekolah di Wyata Guna. Selain mengikuti program ini secara formal, dari Senin hingga Jumat, pagi hingga siang hari, saya terus belajar bahasa Inggris di lembaga LIA. Kebetulan koordinator program musik tersebut mengetahui bahwa saya memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Kemudian beliau meminta saya untuk mengajar Klara, anak  pertama beliau.

 

Saya mengajar selama kurang lebih 2 jam setiap pertemuan, dan tiga kali dalam seminggu. Ketika itu, saya belum tahu teknologi. Saya belum bisa menggunakan komputer. Ketika belajar di LIA pun saya menggunakan buku braille. Setiap sebelum naik ke level berikutnya, saya biasanya pinjam buku level selanjutnya dan membawanya ke yayasan Mitra Netra untuk ditransfer ke dalam buku braille. Jadi setiap naik level, saya sudah punya bukunya dalam format braille. Karena saya menyukai bahasa Inggris dan menikmati setiap pelajaran di dalam buku LIA dan di kelas, saya selalu membaca semua isi buku tersebut dan selalu menghadiri kursus dengan suka cita. Alhamdulillah, saya selalu memperoleh nilai yang tertinggi di kelas.

 

Karena wawasan dan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang sudah cukup lumayan, saya mampu mengajar tanpa buku teks. Saya menerapkan “Direct method”, yang kemudian berkembang menjadi “Communicative Language Teaching” sebuah metode pengajaran bahasa asing yang baru saya pelajari beberapa tahun kemudian. Kami memulai pelajaran dengan kebutuhan berbahasa di dalam konteks yang terdekat. Yakni, di konteks rumah dan keluarga.

 

Pelajaran pertama dimulai dengan benda-benda di ruang tamu. Saya meminta Klara untuk mencatat sejumlah kosakata benda dan warna-warna dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Kemudian saya mendiktekan cara penlulisannya dalam bahasa Inggris. Lalu saya latih cara pengucapannya. Kemudian, saya mulai meraba sejumlah benda di ruang tamu satu persatu sambil mengidentifikasinya dalam bahasa Inggris. “Ini meja, it’s a table, ini meja. What is it?” “it’s a table”. lalu saya tanya langsung “Klara, what is it? (sambil memegang meja)” dia jawab “table” lalu saya bantu “it’s a table”. dia kemudian mengulangi jawabannya dengan lebih lengkap “it’s a table”. “very good. hebat. you’re right. it’s a table. Is it pink? warnanya pink?”. dia jawab “bukan”. “no? it’s not pink?. “Is it black?” dia jawab “ya”. “yes?”. dia respon lagi “yes”. saya bimbing lagi “yes, it’s black”. dia mengulangi jawabannya “yes, it’s black”.

 

Saya berlanjut ke benda lain. “It’s a chair. It’s a chair. What is it, Klara?” dia kemudian menjawab “it’s a chair”. Ternyata cara pengajaran seperti itu mampu membuat Klara langsung memproduksi bahasa Inggris secara benar. dan pelajaran ini sangat kontekstual yang ia butuhkan sehari-sehari sehingga ia dapat menerapkan pelajaran tersebut dengan orangtuanya. Setelah kedua benda itu, kami melanjutkan ke sejumlah benda lainnya di ruang tamu dan ruangan lainnya. Di akhir pertemuan pertama, saya menyadari bahwa metode tersebut tidak hanya mengajarkan bahasa Inggris, tetapi juga membantu dan membimbingnya langsung untuk berkomunikasi dalam bahasa asing yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Mamahnya Klara langsung nampak gembira. Intonasi suaranya menunjukkan bahwa ia puas dan senang sekali dengan kemampuan anaknya yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris meskipun masih sangat terbatas dan dalam lingkup yang belum luas. Maklum, baru pertemuan pertama.

 

Setelah kurang lebih dua bulan, kemampuan berbahasa Inggris Klara meningkat pesat. Saya mulai memberikan kebutuhan berbahasa pada lingkup yang lebih luas. yakni, pada lingkup di luar rumah, di lingkup masyarakat yang mulai melibatkan konsep atau istilah yang ia sebenarnya belum tahu. Seperti macam-macam profesi dan jenis pekerjaannya. Dengan bahasa Indonesia yang sederhana, ia mampu memahami konsep profesi dan pekerjaannya. kemudian, kami mulai menggunakan bahasa Inggris. Saya juga sering membuat cerita-cerita dadakan dan meminta Klara untuk mendengarkannya. setelah itu, kami akan berkomunikasi dalam bahasa Inggris seputar cerita tersebut. Alhamdulillah, dengan metode seperti itu, Klara mampu meningkatkan semua aspek bahasa yang dibutuhkan untuk mampu berkomunikasi dalam bahasa asing. Kemampuan mendengar, pengucapan, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Inggris terus meningkat secara bertahap seiring waktu berjalan. Mamahnya Klara sempat berkomentar “walaupun gak ada buku rapot dan gak ada nilai, kami seneng banget. malah, saya mah gak butuh rapot. gak butuh nilai untuk Klara. percuma kalo nilai bagus di rapot, tapi sebenarnya gak bisa apa-apa.”

 

Sayang sekali, setelah beberapa bulan mengajar Klara, saya harus ke Jakarta untuk belajar di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Jakarta. Secara singkat, saya Alhamdulillah berhasil menyelesaikan S1 tersebut dalam 7 semester dengan predikat Cum Laude, IPK 3,60. Sebuah perjuangan yang berbuah manis sekali meskipun saya aktif di organisasi dan harus juga mencari uang tambahan untuk kompensasi kondisi sebagai mahasiswa tunanetra. Selanjutnya, saya berhasil mengajar di SMP umum, tempat kursus umum dan beberapa universitas. Pengalaman-pengalaman ini akan coba saya cicil secara bertahap di seri Cerbung berikutnya.

 

Sampai jumpa lagi

TRANSKRIP AHOK BICARA DI PULAU SERIBU

Kontroversi? Silahkan simak Transkrip “Ahok bicara di pulau Seribu” berikut.
Catatan:
tanda — berarti ada artikulasi yang kurang jelas atau tidak jelas sehingga tidak dituliskan.
informasi yang diletakkan di dalam kurung adalah apa yang hadirin lakukan, Namun, mohon maaf, tidak semua reaksi hadirin dituliskan.
Semoga transkrip berikut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

moderator
pertama kami ucapkan dengan rasa syukur bahwa pak gubernur beserta rombongan dari BPR dan DPRD beserta pak Kadis dan seluruh jajaran telah hadir di tempat TPI ini, tadinya pak, tempat …. pak.
Alhamdulillah hari ini beliau ingin berkunjung dan berdiskusi, berdialog, mungkin dari bapak ibu …. ada yang ingin disampaikan kepada beliau. hari ini juga ada rencana kunjungan mau melihat teman-teman pembudidaya yang mau panen dan lain sebagainya. maka untuk mempersingkat waktu, mungkin kami persilahkan langsung saja kepada pak gubernur … ingin ada yang disampaikan atau nanti warga ada yang bertanya. kami persilahkan.

Gubernur DKI: Assalamu alaykum warohmatullohi wa barokatuh bapak ibu.
Hadirin: (menjawab)
Gubernur DKI
jadi, yang saya hormati, anggota DPR RI, …. pil DKI, anggota DPRD DKI, ada pak bupati, tentu juga kepala dinas, kepala Biro, bapak-bapak dari kelautan perikanan ya? tentu, semua tokoh masyarakat yang hadir di tempat ini, tidak bisa saya sebut satu persatu. Sekali lagi selamat pagi semua. (hadirin menjawab)

Saya, kalau ke pulau seribu, saya bilang saya pasti ingat kampung saya. (tepuk tangan hadirin).

Waktu saya turun, saya lihat pak lurah, saya panggil pak kades, karena tahunya kades. nah, saya waktu jadi bupati, saya memimpikan … itu .. budidaya. karena .. sekarang manusia ini mangkin lama, mangkin banyak. kita daratan gak cukup buat piara makan manusia. bapak ibu yang kerja nelayan, yang jadi nelayan, tidak mungkin kita terus melakukan proses penangkapan ikan juga. gak ada cerita itu. seluruh dunia sudah berbicara budidaya.

dan kita dikaruniai tempat yang begitu luas. saya inget kemarin di psikotes, dikasih gambar, saya gambar laut. saya bilang ini ada kekayaan yang kita lupakan. saya dulu di Belitung, gak ada orang yang kerja. jauh jaraknya. ini jaraknya ke Jakarta, gitu deket. orang kan suka bicara gitu ya? kemana saja saya ditugaskan, saya mau. asal, masih bisa liat Monas, kira-kira gitu. itu maksudnya kerja di kantor yang mahal, gitu lho. ya kalo kita dulu kerja waktu sekolah lulus, tuh begitu bilangnya. saya bersedia pak. ditempatkan kerja di mana saja pak. —- asal masih liat Monas ya pak ya. –kalo ditaro Papua kan repot saya pak.

jadi, sekarang bayangkan orang Pulau Seribu, bisa dekat ke .. Jakarta. Saya dulu punya teman, kerja di pulau. Pulau Belitung ada pulau-pulau kecil lagi. Dia punya tanaman pisang Ambon, pisang Raja, pisang Kepuk, itu sampai busuk. Sampai dia bisa berbulan-bulan tidak makan nasi. kenapa? sayang itu pisang. dia makan pisang ama ikan. selama kerja di sana. kenapa? karena pisangnya gak mungkin carter kapal untuk dibawa ke jakarta, jual.

Nah, sekarang orang Pulau Seribu, kita November akan datang kapal lagi yang besar, seperti yang sekarang punya nih. apa sih kapalnya itu? (“Sabuk Nusantara” jawab salah seorang).

November akan masuk lagi. saya pengen setiap pagi, dari Jakarta ke Pulau Seribu, dari Pulau Seribu ke Jakarta. jadi ada dua. ini bawa barang semua murah. satu ton-nya cuma lima ribu. jadi lima rupiah per kilo kalo bawa barang. (tepuk tangan hadirin) jadi saya ingin bapak ibu, ada hasil apa pun, bisa kerja dengan baik. tanaman apa pun bisa. mau tanam daun Kelor bisa. saya juga —— tadi, saya bilang pulau ini, pengalaman saya di Belitung, kalau pulau yang terpencil, terisolasi, boleh piara ayam boleh piara telur. itu — itu saya bilang salah tuh itu. piara ayam, jarang kena sampah kalo di pulau. Dan pengalaman kami, telur yang di … ayam yang dilepas di pulau ini dikelola oleh LPM kampung, biasanya tuh baik. nah kita musti masuk kesitu. nah jadi tadi siapa. nah sama kaya budidaya. tapi kita ada aturan. saya juga bilang —- saya orangnya sederhana saja. sederhananya begini. kalo bapak ibu gak mau rajjin, gak mau kerja, out aja udah. gak usah pake ngomong sama saya. keluar aja udah. lalu kalo saya gak makan gimana? gue piara lo makan 3 kali sehari — tapi gue kurung di panti. kita lagi bangun di Cianyer, Tangerang. jadi kalo ngaku gak mau kerja, gak bisa makan, sini anakmu saya sekolahin. terus saya mau ngapain? gue kurung aja lo gue kasih makan gratis 3 kali. tapi yang mau kerja, harus.

kita juga tidak ingin per kelompok, bagi rata, untuk awal. saya udah minta diubah sistemnya. karena banyak orang, kalo per kelompok, saya pengalaman jadi bupati. bagi sapi per kelompok, jadi rendah. bagi perahu nelayan per kelompok, gak semua nelayan. jadi lama-lama males. hancur tuh kapal bagus-bagus, gede-gede.

bapak-ibu nelayan, saya tahu persis. saya —- namanye bantuan kapal dari pusat, udah korupsi kadang-kadang. kayunya jelek, ruasnya jelek, betul gak pak? (hadirin menjawab dan tepuk tangan). udah kacau. makanya saya menentang itu.

sama kaya beras raskin. tahun ini kita akan mencoba beras raskinnya — saya gak mau lagi pemerintah subsidi tujuh ribu per kilo, lalu katanya beras raskin itu dibeli seribu empat ratus ribu delapan ratus. berasnya kadang jelek lagi. gak mau. saya udah bilang pak Jokowi, kita mau mentahnya saja, betul gak? ((hadirin tepuk tangan) jadi mentahnya kita kirim, jadi misalnya si A, misalnya Ahok, dapat jatah beras raskin dua puluh kilo, pemerintah subsidi berapa? tujuh ribu. ya sudah sini seratus empat puluh ribu masuk rekening saya. saya punya uang seratus empat puluh ribu, saya mau beli beras apa? mau beli beras Jepang tiga puluh ribu sekilo juga boleh, ya gak? masa seumur hidup gak pernah coba beras Jepang. boleh? (hadirin jawab) itu yang kita mau. tapi semua terkendali dengan nama yang jelas. jadi kalo ada yang main-main, oh coret.

saya selalu tegaskan ama bapak ibu juga, jangan juga terpengaruh, ini urusan dengan pilkada ya, saya mau ingatin, kalo ada yang lebih baik dari saya, kerja lebih bener dari saya, lebih jujur dari saya, bapak ibu jangan pilih saya. bapak ibu kalo pilih saya, bapak ibu bodoh. masa punya duit beli motor Jepang, beli motor Cina, mau gak? harganya sama, beli motor Jepang apa motor Cina, gue tanya? (hadirin jawab Jepang) motor Jepang dong. jadi kalo ada yang lebih baik dari saya, lebih bagus dari saya, jangan pilih saya jadi gubernur, bapak ibu. pilih dia. (hadirin tepuk tangan) pokoknya jelas, gitu lho. tapi yang orang gak pengalaman, cuma jual obat, dapat pilih, ya bodoh juga nanti. (hadirin tertawa) ya, beli kucing dalam karang juga, gitu lho tukang jual obat banyak, jual kecap, selalu kecap nomor satu, betul gak? — kampanye sama. kalo saya, saya gak pernah jual kecap, — satu. silahkan tanding. kalo ada yang lebih baik dari saya, lebih terbukti dari saya, jangan pilih saya bapak ibu. sangat fair.

dan program tambak ini jalan gak? oh jalan, saya bikin sistem sangat baik. anda gak ada saya, program yang saya lempar pasti jalan. kecuali bapak ibu — bupati atau gubernur yang memang korup. kalo dia tidak korup, ini gak berani korup pak. kalo kepalanya lurus, bawahnya gak berani gak lurus. pasti. (hadirin tepuk tangan). bapaknya bengkok, ya bengkok semua. jadi sederhana itu.

jadi soal tambak, kalo bikin sistem begini, bapak ibu kerja, tidak mau per kelompok, per kelompok hanya buat pertemanan. masing-masing orang harus tanggung jawab, sanggup berapa? bagi hasil berapa? (salah seorang teriak “betul”). bagi hasilnya gampang, udah potong semua biaya, bapak ibu yang kerja 80 persen. mana ada bos segitu baik hati ya gak? bapak ibu delapan puluh lho, kami dua puluh. pemda, enak aje, duit pemda kok. masa gratis. bagi dong. untung ama bupati. kalo ama bos bos kan, kamu sepuluh, saya sembilan puluh, betul gak? ini kan delapan puluh, kami dua puluh tuh. nanti dua puluh ini buat siap? bukan buat kami, kami ini orangtua.

nah ini bapak ibu udah mulai kompak, udah keliatan mana yang tukang bohong, mana yang cuma pinter ngomong, kan banyak nih. cuma minta jatah, kan banyak nih orang nih. nanti mulai keliatan mana yang rajin, mana yang pinter, pasti biasanya orang yang rajin, yang jujur tuh, berteman ama yang jujur. yang ngerokok, pasti teman ama yang ngerokok. yang gak ngerokok, berteman ama yang gak ngerokok, kira-kira gitu kan?

jadi mulai berkelompok, kita akan bentukkan koperasi. tapi koperasi bukan Kepala Untung Duluan, gak ada. jadi koperasi kita ini harus dari pertemanan tadi. bapak ibu seleksi anggota yang jujur, yang baik. kalo yang gak jujur, yang gak baik, yang gak produksi, tambaknya buang. gak usah diajak. gak usah takut dia mati kelaparan, percaya ama saya orang malas itu jarang yang mati kelaparan ibu. karena dia enggak malu, pasti dia minta makan. jadi gak usah pusing gitu, orang orang kaya gitu. —

lalu, dua puluh persen pem. dari kami nanti, keuntungan tadi, kami akan bagikan ke koperasi. kami gak ambil uang. tapi sekarang, kami gak bisa. karena kami gak tau siapa. kalo bentuk koperasi dulu, KUD itu langsung, Kepala Untung Duluan. bukan Koperasi Unit Desa tuh. Kepala Untung Duluan. pengalaman. sekarang saya tanya bapak ibu, ada berapa banyak koperasi kita yang sukses berhasil? bikin anggotanya makmur? (hadirin jawab) tapi kalau koperasi didirikan dari pembudi daya yang jujur dan rajin, dia pribadi dapat delapan puluh persen udah kaya, lalu dua puluh persen ditaro di koperasi yang dia juga anggota di dalamnya. makanya saya sengaja bawa DPR RI, saya ingin kalau ini berhasil, ini dicontek di seluruh Indonesia. kita juga berharap, wakil DPRD gak cuma ini, lho bagaimana ibu ibu, —

ini sedikit provokator ya. saya juga suami kan, saya juga laki laki kok. kita juga … tapi kadang-kadang yang lebih rajin jujur itu ibu-ibu —. jadi budidaya ini bila perlu, kalau lakinya malas, kasih ke istrinya saja. — bupati semua ya. supaya suami gak boleh macam-macam. ibunya punya duit, kaya lho. lu gak pulang juga gak papa. bila perlu, ganti pemain baru, iya gak? (hadirin tertawa) punya duit. jadi nih jaman emansipasi nih gak mudah nih suami ama istri nih. lu macam-macam, lu ditinggal juga lu. jadi nih mesti ada keseimbangan, jadi nih mesti, kalau ibu-ibu mau, jadi kenapa saya berani tawarkan semua ke bapak ibu, asalkan yang rajin yang mau kerja ya, bapak aja keluar ke sini mandangnya laut begitu luas, gak usah beli nih tanah. nanti kalau semua tambak berhasil, kita akan bangun pasar, bangun -storage di sini, nanti orang mau eksport ikan pun, bisa langsung jemput ke pulau Seribu. dan berarti dia berani beli dengan harga yang lebih tinggi. (hadirin tepuk tangan) belum lagi turis, kita ada tempat mau bangun resort silahkan, — pribadi silahkan, turis-turis akan datang, dia —kami akan juga bangunkan restoran terapung, kalo udah rame. supaya kalo ibu-ibu bisa masak, turis akan langsung beli, taro.

Pulau Seribu gak ada tempat yang lebih hebat lagi. deket ibukota, satu jam saja, setengah jam — yang bagus. — masih jauh. jadi saya harap bapak ibu manfaatin kesempatan ini, kita soal piara ayam, telur juga harus dipikirkan, isolasi. karena kita butuh makanan banyak. tiap hari orang lahir itu banyak. yang lahir sama yang mati nih, lebih banyak yang lahir, coba kacau gak? kalo dia imbang, gak papa. — yang sekarang dari jakarta nih, orang jakarta kalo begitu lahir sekarang ya, orang pulau Seribu saja kalau lahir,.. dia bisa hidup rata-rata, tujuh puluh enam tahun sekarang. orang kalo di jakarta selatan, tujuh puluh sembilan tahun. jadi sekarang indeks pembangunan manusia kita tinggi sekali. jadi — tuh – dihitung berapa lama dia sekolah.

sekarang Jakarta rata-rata sekolah sepuluh tahun. dulu Jogja lebih bagus. dulu orang Jogja sekolahnya paling lama-lama, gak putus. sekarang orang Jakarta sepuluh tahun. orang Jogja cuma sembilan tahun rata-rata sekolah. jangan salah lu. kalo guru-guru Jogja bagus gak? bagus. kalau guru, orang Jogja tuh baik. tapi putus sekolah di Jogja, yang SMA itu udah capai empat belas persen. tiga belas deh. tiga belas persen. di Jakarta hanya nol koma empat. kenapa? karena KJP kita jalan. nah saya yakin ada program yang lulus perguruan tinggi negeri – delapan belas juta. nanti di survey lagi tahun ini, tahun depan, pasti di atas sepuluh tahun, orang Jakarta akan sekolah.

nah kalo bapak ibu kesehatan jaga dengan baik, umur bapak ibu pasti di atas delapan puluh tahun. dunia, jadi index pembangunan manusia dianggap bagus kalo capai angka delapan puluh. jadi itu apa, angka yang diukur, lama sekolah, lama, apa, kesempatan hidup, bisa berapa panjang usianya, sama daya beli. kita udah mencapai 78,99. Jakarta tertinggi di seluruh Indonesia. berarti, saya dan seluruh DPRD, hanya perlu menganggarkan program yang tepat untuk menambah 1,01. kalo capai 1,01, maka Jakarta standar dunia, delapan puluh angkanya. nah saya yakin survey tahun ini dan tahun depan akan mendekati ke situ. jadi, kalo bapak ibu sakit, jangan main dokter-dokteran, sensei-senseian ya. jangan beli cap naga, cap gajah, cap beruang, cap macan, sembarangan, bingung. nanti kena struk nanti. lebih baik kalo gak sehat, datang ke puskesmas terdekat, diperiksa dengan baik. supaya tau ini bisa bakal struk atau tidak. semua orang pengen umur panjang, nah, saya yakin.

sekarang bapak ibu KTP Pulau Seribu, naik bis transjakarta didarat gak bayar lho bapak ibu, tau gak? itu untuk apa? supaya dompet bapak ibu gak kempes, maksud saya. nah kita juga lagi siapin kapal, saya lagi hitung apakah nanti tunggu Sabuk, … nah tadi Sabuk apaan? ..(hadirin jawab) ya Sabuk Nusantara tadi kalo ada dua, saya tinggal hitung apakah perlu kami subsidi harganya. sekarang bayar berapa? lima belas ribu ya? nah saya lagi hitung, apa saya mau bikin kapal sendiri, atau saya bayar subsidi mereka, bapak ibu cukup bayar tiga setengah. atau bayar tujuh ribu pulang pergi dan masuk naik bis gratis. nah kekurangannya kami yang bayar. (hadirin tepuk tangan) nah kami lagi hitung. nah ini untuk apa? supaya bapak ibu, kaya temen saya yang di pulau tadi kan, panen satu sisir pulau apa, pisang raja saja, kalau tanam pisang, atau punya daun kelor saja, ibu ibu berani tuh naik kapal jualan ke pasar jaya. atau di sini bisa kita buka agen pasar jaya. kami mau buka pasar disini, kita punya perkulakan, bisa juga hanya antar ke pulau terdekat, kami akan titip lewat kapal Sabuk Nusantara tadi, untuk dijual. jadi kalo bapak ibu mau jalan-jalan juga gampang. orang naik besnya, naik kapalnya murah kok. langsung bawa pisang satu tandan, naik bes semua bisa jualan di pasar yang kami sediakan, balik sudah bisa jadi uang. sehingga bapak ibu akan mulai rajin tanam cabe, pulau tanam cabe bagus sekali lho kalo di pasir. ya kan? asal — mesti kita siapin, misalnya — pake plastik, pokoknya yang mau kerja, saya mau kerjasama.

berapa bagi untungnya? delapan puluh, dua puluh. adil kan? kalo gak adil, lu cari tauke mana, gak bakalan kasih deh, nah jadi tauke Ahok yang kasih delapan puluh buat lu. delapan puluh dua puluh. nah ini yang mau, kalo ini kita kerjakan setahun dua tahun ya pak ya, saya yakin bapak ibu punya duit banyak, pasti pada haji hajjah gelarnya (hadirin bilang “amin”) karena punya duit. minimal umroh lah udah punya duit.

nah ini semua tersedia Tuhan kasih di laut bagitu banyak, kalo ada orang kami yang khilaf, korup, minta upeti macam-macam, laporkan. gak usah kuatir, langsung kita berhentikan sebagai PNS. (hadirin tepuk tangan). tinggal lapor, sms kami, udah lah. aku paling seneng berhentiin PNS yang nakal. karena gaji PNS di DKI terlalu mahal soalnya. yang paling rendah dapat tiga belas juta, sebulan. jadi kalo diberhentiin kan lumayan. berhenti seribu, hemat tiga belas milyar satu bulan. (hadirin tepuk tangan).

kalo tiga belas milyar sebulan dibikinin tambak, (hadirin tepuk tangan) wah, sampai bingung nyari orang. bener pak bupati. saya aja juga ngancam pak bupati. kalo bupati kerja gak bener nih, gue mau bubarin bupati di Belitung, eh, di pulau Seribu. gue jadiin camat aja di sini. ngapain piara bupati gak ada guna, ya gak? (hadirin bersorak “betul” dan tepuk tangan) gue mau bubarin. jadi pulau Seribu kita minta, tapi — DPR, ubah undang-undangnya. DKI Jakarta tidak ada kabupaten pulau Seribu. orang cuma dua puluh ribu kurang lebih, ngapain diurusin orang gak gitu banyak. ngabisin ratusan milyar. mendingan semua gue kirimin duit mentahnya ke orang pulau Seribu. daripada urusan — pejabat.

ini pikiran-pikiran dagang aja, saya nih orang dagang, saya pikir dagang aja. sekarang anggaran berapa pulau Seribu? empat ratus M? satu trilyun? empat ratus M. empat ratus milyar setahun. orang pulau Seribu cuma dua puluh ribuan ya? dua puluh empat ribu. kalo gue bagi sepuluh juta, dua ratus empat puluh m. ya lah setahun gue kasih dua puluh juta satu orang, wa lu makmur semua luh. bubarin kabupatennya. (hadirin tertawa) tapi gak beneran lo. kita bernegara … cuma kalo dia macam-macam, gue lakuin nih. (hadirin tertawa) nah ini jadi kita saling jaga. jadi bapak ibu juga gak usah kuatir.

ini pemilihan kan dimajuin, jadi kalo saya tidak terpilih pun bapak ibu, saya berhentinya oktober 2017. jadi kalo program ini kita jalankan dengan baik pun, bapak ibu masih sempat panen sama saya. sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. jadi saya ingin ceritanya bapak ibu semangat. jadi gak usah pikiran, ah, nanti kalo gak kepilih, pasti, Ahok programnya bubar. gak, saya sampai oktober 2017.

jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho. itu hak bapak ibu. ya. jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa. karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu. program ini jalan saja. ya jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak, dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok. gak suka ama Ahok. tapi programnya, gue kalo terima, gue gak enak dong ama dia, gue utang budi. jangan. kalo bapak ibu punya perasaan gak enak, nanti mati pelan-pelan lho kena struk. (hadirin tertawa) jadi ang.. bukan anggap. ini semua adalah hak bapak ibu sebagai warga DKI. kebetulan saya gubernur mempunyai program ini. jadi tidak ada hubungannya dengan perasaan bapak ibu mau pilih siapa. ya, saya kira itu. kalo yang benci sama saya, jangan emosi, terus dicolok, waktu pemilihan, colok foto saya. wah, jadi kepilih lagi saya. (hadirin tertawa) jadi kalau benci sama saya, coloknya musti berkali-kali baru batal. pi kalo cuma sekali, eh kepilih lagi lu gua. saya kira itu, jadi silahkan kalo mau tanya, terima kasih.
Moderator
Terima kasih pak gubernur. silahkan, dari bapak ibu atau rekan-rekan, mungkin ada yang mau tanya……
(mohon maaf saya belum sempat membuatkan transkrip untuk bagian tanya jawab)
Semoga bermanfaat. Silahkan share untuk klarifikasi isu yang simpang siur. Terima kasih.